Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Keduten

Kita pasti sering merasaka keduten pada bagian-bagian tertentu di tubuh kita. Menurut banyak orang keduten merupakan suatu pertanda bagi kita akan menghadapi sesuatu. Marilah kita mencoba mengetahui tanda-tanda tersebut dr keduten yg kita rasakan, apakah benar akan terjadi atau tidak hanya ALLAH yg tahu, setidaknya kita sudah bersiap diri & memasrahkan segala sesuatunya kepada-Nya.

Arti dari keduten (bahasa jawa);
Kedutan di ubun-ubun kepala : Akan mendapatkan kebahagiaan.
Kedutan pada bagian kepala sebelan kanan : Akan sakit.
Kedutan pada bagian kepala sebelah kiri : Akan mendapatkan kemuliaan.
Kedutan pada seluruh kepala : Akan melihat yang aneh-aneh atau ajal sudah dekat.
Kedutan pada dahi : Akan mendapat harta atau ilmu pengetahuan.
Kedutan pada tengkuk : Akan dicintai orang kaya.
Kedutan pada alis mata kanan : Akan berbahagia, tetapi terlebih dahulu mendapat kesusahan.
Kedutan pada kelopak mata kanan atas : Akan mendapat keuntungan.
Kedutan pada alis mata kiri : Akan bertemu dengan seseorang.
Keduatan pada kelopak mata kiri atas : Akan bertemu dengan kekasih/calon kekasih.
Kedutan pada kelopak mata kanan bawah : Akan bersedih.
Kedutan pada kelopak mata kiri bawah : Akan bersedih hati juga.
Keduatan pada ekor mata kanan sebelah atas : Akan sembuh dari sakit.
Kedutan pada ekor mata kiri sebelah atas : Akan bertemu keluarga jauh.
Kedutan pada ekor mata sebelah kanan bawah : Akan bertemu orang jauh.
Kedutan pada ekor mata sebelah kiri bawah : Akan sakit.
Kedutan pada biji mata kanan : Akan bersedih hati.
Kedutan pada biji mata kiri : Akan bersuka cita.
Kedutan pada sekujur hidung : Akan mencium kekasih.
Kedutan pada hidung sebelah kanan : Akan lepas dari penyakit.
Kedutan pada hidung sebelah kiri : Akan tercapai cita-cita.
Kedutan pada pelipis sebelah kanan : Akan mendapatkan kesukaran, kematian dan sebagainya.
Kedutan pada pelipis sebelah kiri : Akan mendapatkan ketenangan hati.
Kedutan pada telinga sebelah kanan : Akan mendapatkan khabar yang menyenangkan hati.
Kedutan pada telinga sebelah kiri : Akan kedatangan keluarga jauh.
Kedutan pada sekujur kepala : akan mendapat harta dan dikasihani orang lain.
Kedutan pada dahi bagian kanan : akan mendapat harta yang halal.
Kedutan pada dahi bagian kiri : akan mendapat kebahagian dari sanak kerabata, handai tolan dan merasa senang.
Kedutan pada ubun-ubun : akan diangkat menjadi seorang pejabat.
Kedutan pada alis bagian kanan : akan melihat kekasihnya.
Kedutan pada alis bagian kiri : akan melihat kekasihnya.
Kedutan pada pelupuk mata bagian kanan : akan mendapat harta yang halal.
Kedutan pada pelupuk mata bagian kiri : akan bertemu dengan orang tuanya yang datang dari jauh.
Kedutan pada pelupuk mata bawah bagian kanan : akan menangis.
Kedutan pada pelupuk mata bawah bagian kiri : akan berjaga-jaga / waspada.
Kedutan pada telinga kanan : akan mendapat harta yang baik.
Kedutan pada telinga kiri : akan kedatangan keluarga dari jauh.
Kedutan pada belakang telinga kanan : akan mendapat uang.
Kedutan pada belakang telinga kiri : akan sindiran orang lain..
Kedutan pada pelipis kanan : akan mendapat kesenangan.
Kedutan pada pelipis kiri : akan marah dan kehilangan.
Kedutan pada pipi kanan : akan mendapatkan pekerjaan.
Kedutan pada pipi kiri : akan sakit di perantauan.
Kedutan pada lambung bagian kanan : akan bantah-bantahan.
Kedutan pada lambung bagiankiri : maka alamat akan berbicara jelek.
Kedutan pada dagu bagian kanan : akan dimuliakan oleh orang tua atau mendapat harta.
Kedutan pada dagu bagian kiri : akan mendapat pekerjaan dari seorang kepala.
Kedutan pada tenggorokan bagian kanan : akan mendapat kesusahan.
Kedutan pada tenggorokan kiri : akan mendapat kesenangan.
Kedutan pada leher bagian kanan : akan sakit dari marabahaya.
Kedutan pada leher bagian kiri : akan mendapat kesenagan atau akan berjalan jauh.
Kedutan pada ketiak bawahbagian kanan : akan kehilangan
Kedutan pada ketiak bawah bagian kiri : akan ada berita dari jauh
Kedutan pada pundak bagian kanan : akan bantah-bantahan
Kedutan pada pundak bagian kiri : akan dicintai orang lain
Kedutan pada belikat bagian kanan : akan mendapat kesenangan.
Kedutan pada belikat bagian kiri : akan dimuliakan oleh orang lain.
Kedutan pada belikat bagian kiri : akan dimuliakan oleh orang lain.
Kedutan pada perut bagian kanan : akan mendapat rizqi yang banyak.
Kedutan pada perut bagian kiri : akan mendapat kebaikan.
Kedutan pada lengan kanan : akan bertemu dengan kekasihnya.
Kedutan pada lengan kiri : akan dilamar orang atau mendapat uang namun lama.
Kedutan pada siku kanan : akan marah.
Kedutan pada siku kiri : akan datang kekasihnya.
Kedutan pada telapak tangan kanan : akan mendapat harta.
Kedutan pada telapak tangan kiri : akan mendapat harta dari orang lain.
Kedutan pada punggung bagian kanan : akan kedatangan penghulu.
Kedutan pada punggung bagian kiri : akan berbuat jelek.
Kedutan pada pantat bagian kanan : akan kedatangan sanak famili.
Kedutan pada pantat bagian kiri : akan kawin.
Kedutan pada tumit bagian kanan : akan mendapat kesenangan atau akan berjalan jauh.
Kedutan pada tumit bagian kiri : akan mendapat uang.
Kedutan pada telapak kakikanan : akan berjaga-jaga / berprihatin.
Kedutan pada telapak kaki kiri : akan bepergian jauh.

Mencari Barang Hilang Dengan Hitungan Jawa

Membahas tentang peradaban jawa memang tidak ada habisnya, apalagi kalau urusan hitung-hitungan ala orang jawa banyak sekali hal-hal yang di luar nalar di jaman modern ini. Namun meskipun demikian kita juga tidak boleh begitu saja meninggalkan peradaban tersebut. Karena memang kadang-kadang kita juga masih harus percaya terhadap perhitungan jawa contohnya saja kalau di kampung saya anak kecil yang menangis terus-terusan tanpa mengeluarkan air mata biasanya akan berhenti menangis kalau dengan bantuan dukun atau para orang tua jawa.

Dalam artikel kali ini saya akan memberikan sedikit tips cara mencari barang hilang atau lupa tempatnya dengan bantuan hitungan jawa. Percaya atau tidak masih banyak orang di sekitar saya yang menggunakan trik ini untuk mengetahui kemana kira-kira barang tersebut. Perhitungan trik ini berdasarkan jumlah hari dan pasaran hari saat pertama kali hilang atau lupa sebelumnya saya sudah memberikan cara menghitung hari beserta pasaran baca:Menghitung Jumlah Weton Jawa.

Caranya adalah jumlahkan jumlah hari dan pasaran kapan pertama kali barang hilang tersebut, kemudian hitung dengan jari anda. ingat pada jari mana anda berhenti sesuai jumlah hari dan pasaran tersebut. Setelah anda ingat, hitung kata ini (BUMI,LANGIT,SURGA,NERAKA) yang urutannya sama persis dengan cara anda menghitung jumlah hari tadi sampai berhenti tepat dimana anda berhenti saat menghitung jumlah hari tadi.

Contoh: barang hilang hari selasa pon maka jumlahnya adalah selasa=3 dan pon=7. Dihitung mulai jari kelingking akan berhenti pada jari jempol. kemudian hitung kata-kata yang berwarna merah di atas dan akan berhenti pada kata langit.

Setelah anda hitung cocokkan hasil hitungan anda dengan makna di bawah ini:
BUMI : Berarti barang yang hilang tersebut jatuh, coba anda cari di sekitar rumah anda atau perjalan anda
LANGIT: Berarti barang tersebut berada di bagian atas rumah atau di lantai atas rumah anda
SURGA: Berarti barang tersebut masih berada di dalam rumah anda sendiri
NERAKA: Berarti barang tersebut berada di sekitar dalam dapur anda atau rumah bagian belakang anda.

Percaya atau tidak, hitungan ini masih di pakai di lingkungan tempat tinggal saya


Membaca Karakter Seseorang dari Hitungan Weton

Menurut kepercayaan Jawa, arti dari suatu peristiwa (dan karakter dari seseorang yang lahir dalam hari tertentu) dapat ditentukan dengan menelaah saat terjadinya peristiwa tersebut menurut berbagai macam perputaran kalender tradisional. Salah satu penggunaan yang umum dari metode ramalan ini dapat ditemukan dalam sistem hari kelahiran Jawa yang disebut wetonan.

Weton anda merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, dll.) dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perputaran ini berulang setiap 35 (7 x 5) hari, sehingga menurut perhitungan Jawa hari kelahiran anda berulang setiap lima minggu dimulai dari hari kelahiran anda.

1. Jumat Legi

Konon, mereka yang lahir pada hari ini cenderung bersifat jujur. Bahkan, mereka terkadang mungkin terlalu jujur, sebab mereka adalah tipe orang yang suka mengungkapkan pikiran mereka tanpa tedeng aling-aling! Mereka cukup teguh dengan pendirian mereka, tetapi sikap seperti ini terkadang juga menghambat kemampuan mereka untuk menerima orang lain secara apa adanya. Sebaiknya kita tidak memancing amarah mereka, karena mereka dapat bertindak ekstrim bila sedang naik darah. Meskipun demikian, mereka setia dan murah hati terhadap orang-orang yang dicintainya. Simpati mereka mudah timbul sehingga tidak keberatan untuk bertindak diluar jalur mereka untuk membantu teman atau bahkan orang asing.

2. Sabtu Pahing

Jika anda lahir pada hari Sabtu Pahing, kemungkinan anda bersifat lekas naik darah! Untungnya, secepat anda memuntahkan kemarahan anda secepat itu pula anda melupakan penyebabnya. Semoga orang lain sebaliknya mudah memaafkan anda pula! Perlu diingat, bukanlah suatu hal yang menyakitkan untuk mengakui kesalahan yang kita lakukan. Akan tetapi meskipun anda memiliki semangat hidup yang tinggi yang terkadang berakibat pada kecerobohan, anda akan bersikap lebih waspada bila menyangkut materi. Anda adalah salah satu tipe yang selalu siap membantu teman yang sedang menderita.

3. Minggu Pon

Anda termasuk tipe yang sensitif. Mungkin karena takut disakiti, anda selalu melindungi perasaan anda. Hati dan pikiran anda mungkin cukup dalam, tetapi terkadang orang lain menganggap anda tertutup. Barangkali anda telah mengembangkan penilaian yang tajam terhadap baik-buruknya watak manusia. Dengan bakat ini, anda dapat menjadi seorang diplomat yang piawai -- atau malahan seorang manipulator yang licik! Yang jelas, anda selalu berusaha terlihat baik didepan teman-teman anda. Walaupun anda mungkin saja mengambil cara yang tidak langsung atau menunggu saat yang tepat, tetapi lama-lama anda pasti merebut kesempatan untuk memamerkan kelebihan anda, entah dari segi material ataupun intelektual.

4. Senin Wage

Menurut kepercayaan Jawa, jika anda lahir pada hari Senin Wage anda jarang terjebak dalam keadaan yang memalukan! Ini dikarenakan anda suka merencanakan dan menimbang pilihan anda dengan hati-hati jauh sebelum mengambil tindakan. Anda cukup jujur dan tidak keberatan mendengarkan permasalahan orang lain. Berkat pendekatan anda yang tenang, anda mampu tampil meyakinkan di depan masyarakat, sehingga anda memiliki bekal menjadi diplomat yang baik. Meskipun demikian, sekali anda marah, anda tidak akan mau menerima alasan apapun. Anda terkadang begitu ndableg sehingga lebih baik anda dibiarkan sendiri saja untuk menjadi tenang kembali.

5. Selasa Kliwon

Mereka yang lahir pada hari Selasa Kliwon terkenal bersifat ramah. Mereka begitu pandai mengungkapkan kata-kata yang tepat dalam berbagai situasi sehingga orang lain cukup mudah menyukainya -- atau malahan cukup mudah diperdayainya bila itu yang mereka inginkan! Anehnya, mereka juga terkenal berpendirian keras, walaupun kesan pertamanya mungkin tidak menunjukkan demikian. Mereka juga dapat bersikap sangat kritis terhadap orang lain pada saat-saat tertentu. Namun, anda tidak perlu berkecil hati bila menjadi sasaran penilaian tajam mereka: menunjukkan kesalahan anda barangkali hanyalah cara mereka membantu anda menjadi orang yang lebih sempurna!

6. Rabu Legi

Anda menghormati tata krama dan berpegang teguh pada falsafah hidup anda. Kejujuran adalah salah satu prioritas anda, sehingga anda membenci ketidakadilan. Anda sangat setia terhadap teman tercinta anda yang sangat banyak. Anda dikagumi oleh banyak orang karena kata-kata anda yang bijaksana. Lantas, apa gunanya selalu ingin mencampuri urusan orang lain?

7. Kamis Pahing

Anda memiliki cita-cita yang besar disertai semangat baja untuk mewujudkannya. Anda selalu siaga mencari kesempatan untuk memajukan kepentingan anda. Tetapi hal itu bukanlah untuk anda semata; anda juga sangat mempedulikan keluarga dan selalu siap membantu saudara yang membutuhkan perlindungan atau pengasuhan. Meskipun demikian, anda mungkin perlu menjaga kecenderungan untuk selalu mengambil kesimpulan tanpa mengetahui fakta-fakta yang lengkap. Khusus dalam pergaulan anda, suatu dorongan untuk membantah tanpa lebih dahulu mengatur pikiran dan kata-kata mungkin akan dapat membuat orang lain merasa tidak dihargai. Cara penyampaian anda sangat berpengaruh di sini.

8. Jumat Pon

Menurut kepercayaan jawa, orang yang dilahirkan pada hari Jumat Pon perlu banyak bergaul dengan berbagai jenis orang. Konon, mereka berpembawaan tenang, serius dan bijaksana dalam berbicara. Mereka adalah tipe yang berjiwa sosial, murni dan jujur serta mudah bersimpati terhadap mereka yang tertindas. Mereka mudah beradaptasi dengan orang-orang di sekitar mereka dan dapat menyesuaikan diri dengan berbagai situasi seperti seekor bunglon. Akan tetapi, kelebihan ini juga dapat menjadi kelemahan terbesar mereka, karena jika tidak disertai rasa percaya diri yang kuat mereka dapat dengan mudah dipengaruhi oleh pendapat dan kebiasaan buruk orang lain.

9. Sabtu Wage

Jika anda lahir pada hari Sabtu Wage, maka anda akan bersifat teguh pada pendirian dan sangat mudah naik darah jika rencana tidak berjalan sesuai dengan keinginan anda. Barangkali anda akan sedikit banyak bergelut dengan masalah seputar kepercayaan dan rasa memiliki, karena dikatakan bahwa anda bersifat agak cemburuan. Meskipun demikian, anda sangat setia dan murah hati terhadap orang-orang yang anda sukai. Di samping itu, anda memiliki bakat besar dalam mengatur rumahtangga anda agar tetap berjalan tenang. Anda benar-benar menyukai kemewahan dan sangat menghargai barang-barang yang berkualitas tinggi.

10. Minggu Kliwon

Satu lagi tipe pendiam dengan pendirian tegas dan kemauan keras. Anda sangat pandai dalam membuat orang selalu menduga-duga perasaan anda yang sebenarnya. Anda sebetulnya cukup sensitif, tetapi jangan berharap orang lain akan mempercayainya pada saat mendengar anda beradu pendapat. Anda pandai bersosialisasi, pandai berbicara, dan memiliki bakat politik yang besar. Dengan kelebihan seperti ini, tidak mengherankan tipe-tipe seperti anda sering mencapai kedudukan yang tinggi!

11. Senin Legi

Kelompok ini suka berkeliling dan melihat-lihat dunia, entah secara fisik ataupun secara intelektual. Mereka juga suka berdebat. Namun, mereka tidak bersifat antagonis; kalangan ini sebenarnya terlalu sopan bahkan untuk bermimpi menyakiti perasaan orang lain. Konon mereka juga sangat murah hati. Tampaknya, mereka memiliki kepribadian yang cemerlang... jika saja mereka mau berhenti mencampuri urusan orang lain!

12. Selasa Pahing

Orang-orang yang lahir pada hari Selasa Pahing konon bersifat santai dan dapat menerima orang lain apa-adanya. Mereka terampil dengan tangan mereka, suka menolong, dan mau berkorban banyak bagi orang yang mereka sayangi. Tetapi jangan tanya tentang orang-orang yang membuat mereka marah! Kalangan Selasa Pahing mempunyai reputasi terburuk dalam hal membalas dendam secara membabibuta. Meskipun mereka cenderung untuk cukup beruntung, mereka harus belajar untuk mengendalikan suatu kehausan pribadi yang mungkin membuat mereka agak serakah. Lalu di kemudian hari mereka dapat hidup tenang dan berbahagia, dikelilingi banyak teman yang baik dan menarik.

13. Rabu Pon

Pada dasarnya, anda termasuk tipe yang penuh keberuntungan, karena anda selalu merencanakan tindakan anda dengan hati-hati, terbuka terhadap peluang yang baru, dan tidak mudah putus asa. Anda juga memiliki beberapa keterampilan sosial, sehingga sejelek apapun wajah anda, kemungkinan besar anda mudah bergaul dengan orang lain! Sisi buruknya, anda suka sekali pamer. Mungkin anda hanya haus perhatian sewaktu masih kecil, sehingga kini anda merasa harus membuat kagum semua orang dengan kepandaian atau kekayaan anda. Jadilah diri sendiri dan orang lain akan menyukai anda apa adanya. Akan lebih baik juga bila anda berusaha untuk tidak terlalu menyalahkan orang lain yang secara tidak sengaja menyakiti perasaan anda.

14. Kamis Wage

Orang yang lahir pada hari Kamis Wage biasanya memiliki cita-cita setinggi langit. Tentu saja, terkadang harapan mereka terlalu tinggi, tetapi mereka juga berpegang pada aturan dan dapat cukup berhati-hati dalam mewujudkan tujuan mereka sehingga seringkali tercapai. Kalangan ini mungkin saja pandai, tetapi mereka sering terpaku pada jalan mereka dan biasanya tidak menghargai saran yang tidak mereka inginkan. Meskipun demikian, mereka dapat cukup mempesona orang lain dengan sopan-santunnya dan cenderung tampil baik dalam pergaulan. Mereka mungkin tidak suka menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya, tetapi mereka mudah dibujuk dengan rayuan -- beberapa patah kata yang manis dan mereka pasti mulai berpamer!

15. Jumat Kliwon

Karena sabar dan murah hati, anda mudah membuat orang menyukai anda. Mungkin hal ini juga dikarenakan gaya anda yang halus. Anda dapat menjadi seorang pemimpin yang baik, karena anda cenderung mempunyai kemampuan, dapat berpikir secara luas, dan dapat mempengaruhi banyak orang dengan lidah anda yang pandai. Mungkin saja anda sedikit malas pada suatu saat, tetapi orang-orang akan tetap mencintai anda. Jelasnya, anda tidak akan pernah kekurangan teman!

16. Sabtu Legi

Anda adalah salah seorang penggemar gaya hidup yang santai dan mewah. Bagi anda, kualitas selalu lebih penting daripada harga yang murah. Hal ini berlaku juga pada kehidupan sosial anda: Anda ingin berada disekitar orang-orang baik yang ber-IQ tinggi. Anda sendiri tidak kalah dari segi otak. Untungnya anda juga dapat menghargai pandangan orang lain. Tidak bisa dipungkiri, omongan anda terkadang sedikit tajam. Tetapi mengapa orang lain mau bersikap sarkatis terhadap anda?

17. Minggu Pahing

Menurut pengertian tradisional, orang yang lahir pada hari Minggu Pahing diakui memiliki kemampuan yang mengagumkan di bidang apa saja yang digelutinya. Mereka adalah pribadi-pribadi kuat yang mampu mempertahankan pendapatnya dalam keadaan sulit sekalipun. Tetapi mereka juga berpikiran luas dan cenderung ditanggapi dengan baik dalam lingkungan sosial. Anehnya, kelompok ini dapat benar-benar ahli dalam menyembunyikan (atau memendam) perasaan-perasaan yang tidak enak seperti kemarahan, kesedihan, atau penyesalan. Kontrol diri semacam itu sangat menguntungkan bagi seorang politikus, doktor UGD, atau agen rahasia. Namun, semoga sifat ini tidak berakibat pula pada terpendamnya perasaan-perasaan yang semestinya ditunjukkan secara terbuka kepada orang-orang yang mereka cintai.

18. Senin Pon

Jika anda lahir pada hari Senin Pon, anda adalah seseorang yang penuh kontradiksi. Anda mungkin terlihat sebagai orang yang tangguh, yang suka tampil kuat, bahkan dengan bangga memamerkan kekayaan anda (atau kepandaian anda bila hanya itu yang anda miliki!). Namun, anda sebenarnya adalah seseorang yang sangat perasa. Orang lain akan selalu terkejut bila mendapati betapa ramah, sopan dan bertanggung jawab anda sebenarnya. Tidakkah anda merasa lebih baik sekarang?

19. Selasa Wage

Anda tidak suka membesar-besarkan diri. Bahkan, anda lebih sering mengalah kepada orang yang lebih cerewet daripada mempersoalkan hal-hal yang remeh. Meskipun demikian, anda bersemangat baja. Beberapa orang mungkin mengatakan anda sedikit kaku. Namun, ada pula yang akan menganggap anda teramat ndableg. Di samping itu, andaikata anda merasa terancam, ego anda yang sensitif akan sangat mudah terusik sehingga anda cenderung bersikap cemburu. Meski demikian, terkadang lawan-lawan anda pun akan mengagumi nafsu anda yang besar akan ilmu pengetahuan dan tekad kuat yang memungkinkan anda menelaah secara mendalam hal-hal yang menarik perhatian anda. Bila keadaan mulai memburuk anda akan tetap bertahan.

20. Rabu Kliwon

Anda adalah pemikir sejati dengan sikap lembut disertai gaya duniawi yang mempesona yang mudah menarik orang lain kepada anda. Dikarenakan bakat alami anda akan bahasa dan kepekaan terhadap perasaan orang lain, maka anda memiliki potensi untuk menjadi seorang pembicara besar. Banyak di antara orang yang lahir pada hari Rabu Kliwon menjadi orator atau penulis yang handal. Anda berseri-seri bila mendapatkan pujian (sebenarnya siapa yang tidak?), akan tetapi mungkin anda perlu belajar untuk tidak terlalu memasukkan kritikan orang lain ke dalam hati. Waspadalah agar kelemahan anda terhadap kata-kata yang manis tidak membuat anda terlalu mudah diperdaya.

21. Kamis Legi

Mereka yang lahir pada hari Kamis Legi memiliki cita-cita yang mulia dan nilai-nilai yang tinggi. Mereka terkadang amat bijaksana, dikarenakan kemampuannya untuk melihat prospek jangka panjang dari suatu hal. Walaupun demikian, mereka harus mampu bersikap tabah dan berhati-hati jika ingin melihat keberhasilan ide-ide mereka yang besar. Masalahnya, meskipun kalangan ini cenderung berpandangan luas, mereka sering terjerumus dalam pernik-pernik kehidupan sehari-hari. Mereka termasuk tipe yang selalu membutuhkan pujian. Namun, kemungkinan dukungan tidak terlalu sulit diperolehnya, sebab mereka biasanya dikelilingi oleh banyak teman (kelompok ini terkenal memiliki kemampuan bergaul yang luar biasa). Sementara itu timbul pertanyaan; benarkah hanya keinginan untuk membantu ataukah dorongan tersembunyi untuk menguasai lingkungannya yang selalu membuat mereka mencampuri urusan orang lain?

22. Jumat Pahing

Pada dasarnya, anda adalah pembicara yang menyenangkan dengan cita-cita tinggi dan hati yang jujur. Apalah artinya jika anda bersikap sedikit boros! Anda bakal memperoleh banyak poin dari mereka yang ingin melihat anda berhasil -- bahkan jika anda tidak selalu memanjakan mereka. Anda kelihatan begitu mudah dimanfaatkan sehingga orang tidak akan menyangka bahwa anda akan mampu bersikap gigih (baca: keras kepala?) atau menduga betapa ganasnya anda bila sedang mengalami hari yang menjengkelkan!

23. Sabtu Pon

Anda memiliki ego yang besar dan selalu ingin menjadi penguasa di dalam lingkungan anda. Meskipun demikian, anda bukanlah tipe orang yang sulit: bila seseorang mengecewakan anda, anda akan memaafkan dan melupakannya dengan cukup mudah -- asalkan mereka mengakui kesalahannya dan memohon maaf di kaki anda! Anda suka membayangkan diri sebagai orang yang kaya dan terkenal. Hal ini tidak berarti secara otomatis anda materialistis. Namun, jika para peramal Jawa dapat dipercaya, anda memang menikmati suasana yang mewah dan tidak sungkan memperlihatkan kelebihan anda dalam hal materi. Mungkin hal ini berhubungan dengan masa kecil yang kurang bahagia dari segi emosional atau ekonomi. Semoga saja anda tidak terlalu pelit untuk membagi keberuntungan dengan teman-teman anda. Ingatlah bahwa mereka yang banyak memberi akan banyak menerima pula!

24. Minggu Wage

Mereka yang lahir di hari Minggu Wage konon bersifat pemurah dan mudah menaruh iba. Mereka tahu cara-cara untuk menghibur orang yang sedang menderita. Mereka merupakan pekerja keras pula. Akan tetapi, mereka terkadang terlalu teguh dalam pendirian -- bahkan sangat keras kepala! Meskipun mereka pandai menenangkan perasaan orang lain, mereka tidak akan menunjukkan perasaan mereka sendiri dengan mudah. Mungkinkah hal ini merupakan pengendalian emosi dari diplomat, doktor UGD, atau pemadam kebakaran, atau justru kewaspadaan yang berlebihan terhadap kemungkinan disakiti oleh orang-orang yang telah mereka percayai? Mereka sendiri yang harus menjawab pertanyaan ini.

25. Senin Kliwon

"Kehormatan keluarga" adalah prinsip kalangan Senin Kliwon. Anda terkenal karena pengabdian anda terhadap orang tua, anak, kakak-adik, bahkan sering pula kerabat jauh. Anda bersedia mengorbankan semuanya untuk membela keluarga anda. Anda memiliki perasaan yang kuat terhadap asal anda, bahkan mungkin juga terhadap negara tempat anda lahir. Sayangnya, segala hal cenderung terlalu dimasukkan hati, sehingga anda mudah tersinggung. Terkadang perlu waktu untuk membuat anda tenang kembali. Meskipun demikian, pada dasarnya anda mudah memaafkan dan tidak suka mendendam. Anda pandai dengan kata-kata dan mungkin dapat menjadi seorang pembicara atau penulis yang baik jika anda tertarik pada pekerjaan semacam itu. Orang lain menghargai keramahan, kesopanan dan kelembutan anda yang terpuji.

26. Selasa Legi

Jika anda lahir pada hari Selasa Legi, anda akan memiliki kepribadian yang kuat. Anda tidak akan suka melihat orang menghalangi anda, dan tidak akan mau mengalah (walaupun dalam hal yang sebenarnya sepele) agar orang lain tidak merasa sakit hati. Sesungguhnya, popularitas anda tidak akan berkurang jika anda mau belajar sedikit berkompromi. Bila tidak, dorongan anda untuk berkuasa dapat membuat anda membuang banyak tenaga dalam adu kekuatan dengan teman, pasangan, atau majikan. Tetapi bagaimanapun kekurangan tersebut, anda adalah tipe yang jujur dan suka bekerja keras, yang memiliki cita-cita tinggi dan minat yang tak terpuaskan terhadap ilmu pengetahuan.

27. Rabu Pahing

Orang-orang ini suka mempertimbangkan segala sesuatu sebelum melakukan suatu tindakan. Mereka akan merenungkan segala kemungkinan hingga puas terhadap hasil yang dapat dicapai. Kelompok ini mungkin terlihat cukup santai, tetapi jangan terkecoh! Mungkin dikarenakan sedikit rasa kurang percaya diri yang membuat mereka bersikap angkuh. Namun, tidak dapat dipungkiri banyak peramal Jawa juga mengatakan bahwa mereka memang tidak suka berbagi dengan yang lain. Kewaspadaan mereka mungkin terlihat berlebihan saat rasa curiga mereka timbul. Orang-orang ini sangat perlu belajar untuk bersikap lebih santai dan menurunkan pertahanan mereka. Untungnya mereka memiliki prinsip untuk tidak mencampuri urusan orang lain.

28. Kamis Pon

Jika anda lahir di hari Kamis Pon, anda biasanya memiliki cita-cita tinggi dan tujuan-tujuan mulia yang berusaha anda wujudkan sekuat tenaga. Anda memiliki pikiran yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu, serta suka mempelajari hal-hal baru yang dapat memperluas wawasan anda. Meskipun demikian, dengan kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dalam skala besar, kebanggaan serta rasa percaya terhadap kekayaan materi atau kepandaian dapat dengan mudah menjadi kelemahan anda pada suatu saat. Anda bukanlah tipe orang yang suka banyak bergaul dan tidak tertarik pada urusan orang lain. Tampaknya anda cukup puas dengan mengandalkan kemampuan pribadi untuk memahami suatu situasi dan menghindarkan diri dari pengaruh orang lain.

29. Jumat Wage

Mereka yang terlahir pada hari Jumat Wage terkenal sangat mengasihi dan mudah menaruh iba kepada sesama manusia. Oleh karena itu, anda berpotensi menjadi Ibu Teresa kecil yang selalu bersedia membantu mereka yang membutuhkan. Anda memiliki karakter yang sangat jujur, kemurnian hati, dan juga kesetian yang sesuai dengan julukan tersebut. Anda tidak pernah membesar-besarkan kemampuan anda sendiri, padahal di dalam hati anda sesungguhnya adalah orang yang tegar. Sangatlah sulit membuat anda mengubah keputusan yang telah anda tetapkan. Keyakinan anda dapat sangat mengagumkan... atau bahkan hanya suatu kebodohan. Anda mungkin perlu belajar untuk menerima saran dari orang lain yang bermaksud baik.

30. Sabtu Kliwon

Justru orang seperti ini yang anda perlukan di pesta anda berikutnya, karena mereka begitu ramah, sopan, dan mudah terkesan, sehingga mereka dengan mudah membuat orang lain merasa betah di rumah anda. Mereka juga pintar mengucapkan kata-kata yang menyenangkan. Bahkan, mereka yang terlahir pada hari Sabtu Kliwon termasuk salah satu kalangan yang memiliki bakat alamiah dalam berbicara dan menulis jika mereka memilihnya sebagai pekerjaan. Mereka cenderung memperlakukan semua orang dengan baik, bahkan musuh mereka sendiri! Mereka tidak dikenal sebagai orang tegar yang berpegang pada pendiriannya. Akan sangat berguna jika mereka mau mengembangkan sedikit keberanian dan ketegasan, karena kelompok ini cenderung sangat mudah menyerah pada rintangan pertama. Mereka biasanya memperhitungkan dengan cermat segala tindakan yang akan mereka ambil. Dengan demikian muncullah pertanyaan: mengapa mereka sangat mudah terkecoh oleh penampilan seseorang atau sesuatu? Mereka adalah pelanggan impian para pedagang.

31. Minggu Legi

Hanya sedikit orang yang diperkenankan mengetahui isi hati anda yang terdalam. Anda termasuk tipe orang yang tegas dan pendiam. Anda terlihat sangat tenang dan terkendali, bahkan saat anda terbakar amarah, senyuman misterius itu tidak akan pernah lepas dari bibir anda. Maka dari itu, pada saat anda melepaskan perasaan anda, baik cinta ataupun benci, hal itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi orang-orang di sekitar anda. Anda berwatak cerdik, bahkan terkadang licik, dan pandai dalam mengorek rahasia. Anda mudah tertarik pada hal yang aneh, mistis, atau misterius. Mencampuri urusan orang lain sangat menyenangkan bagi anda. Oleh karenanya, anda mungkin bisa menjadi seorang detektif, agen rahasia atau psikiater yang baik.

32. Senin Pahing

Anda suka menyampaikan pendapat dengan tegas, dan tidak akan terpengaruh oleh omongan orang lain bila tidak menemukan alasan untuk mempercayainya. Meskipun demikian, anda adalah seorang yang perasa, jujur, beriba, dan bercita-cita tinggi. Anda adalah pekerja giat yang tidak suka menghambur-hamburkan hasil jerih payah. Cobalah untuk mengendalikan perasaan anda yang sensitif agar tidak selalu memasukkan dalam hati setiap perkataan atau tindakan orang lain.

33. Selasa Pon

Kalangan ini sangat menyukai kemewahan. Tingkat pemborosan mereka biasanya tergantung pada kemampuan finansial yang ada, tetapi keinginan yang kuat akan kehidupan yang serba mewah akan selalu mereka rasakan. Meskipun cenderung untuk melindungi perasaan mereka sendiri, mereka dapat menjadi sangat setia dan murah hati kepada orang-orang yang sesuai dengan standar pribadi mereka. Akan tetapi, sekali anda dekat berarti anda telah menjadi milik mereka seutuhnya, dan karena kalangan ini sering terbawa kekhawatiran akan ancaman (nyata maupun khayalan) maka tidak mengherankan jika rasa cemburu selalu menyertai mereka dalam setiap hubungan. Meskipun mereka yang dilahirkan pada hari Selasa Pon terkenal bersifat tertutup, mereka dapat bersikap cukup ramah dalam kehidupan sosial. Barangkali anda tidak akan menduga bahwa mereka berpendirian sangat kaku.

34. Rabu Wage

Secara umum, mereka yang lahir pada hari Rabu Wage bersifat baik hati dan ramah. Meskipun terkadang kata-kata mereka agak keras, mereka biasanya mudah bergaul dengan orang lain serta menjunjung tinggi kejujuran dan niat baik. Mereka suka menimbang pilihan mereka dengan cermat sebelum melaksanakannya, dan dalam hal ini mereka memiliki cukup banyak kebijaksanaan. Bisa saja mereka suka menikmati barang-barang dan pelayanan yang mewah, tetapi mereka bukan tipe pemboros. Mereka sangat menghargai uang mereka, dan terkadang beberapa dari mereka dapat bersikap sangat irit.

35. Kamis Kliwon

Anda memiliki rencana-rencana besar dalam hidup anda. Bahkan, terkadang cita-cita anda sedikit terlalu besar sehingga anda menjadi korban dari imajinasi anda yang terlalu aktif saat keadaan berada diluar jangkauan anda. Meskipun demikian, anda tidak mudah menyerah, dan sikap anda yang optimis dan terhormat akan membuat anda diterima dengan baik oleh kebanyakan orang. Anda suka menjadi pemimpin, akan tetapi terlebih dulu anda harus mengendalikan kecenderungan anda untuk terlalu memasukkan hati ide dan tindakan orang lain yang mungkin berbeda dari sudut pandang anda.

Menghitung Jumlah Weton Jawa

Buat orang jawa mengetahui weton amatlah sangat penting, Karena weton sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu Faktor yang paling penting kegunaan mengetahui weton adalah sebagai hitungan saat akan melangsungkan pernikahan. Jumlah weton bisa diketahui dari hari lahir serta pasaran, rata rata orang jawa tahu hari lahir serta pasaran bahkan sampai ke yang lebih detail biasanya di catat oleh orang tuanya.

Di artikel ini saya akan mencoba membantu anda mengetahui jumlah weton sesuai hari lahir dan pasaran. Cara menghitungnya sangat gampang, kita tinggal menambahkan nilai hari lahir di tambah nilai pasaran kelahiran kita.

Di bawah ini saya berikan nilai masing-masing hari dan pasaran sesuai hitungan jawa.

NILAI HARI KELAHIRAN
Senin = 4, Selasa = 3, Rabu = 7, Kamis = 8, Jum'at = 6, Sabtu = 9 dan Minggu = 5

NILAI PASARAN JAWA
Pon = 7, Wage = 4, Kliwon = 8, Legi = 5, Pahing = 9

Anda hanya tinggal menambahkan nilai diatas + nilai dibawah. Dengan mengetahui jumlah weton anda bisa mencari ramalan tentang diri anda, tentang jodoh, sifat sifat hidup serta berbagai hal. semoga bermanfaat


Gus Dur, NU, dan Perjuangan "Civil Islam"

SEIRING turunnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden, sebenarnya ada hikmah dan berkah luar biasa bagi segenap umat Muslim Indonesia, ketimbang rasa nelongso dari nahdliyin, yang merasa figur panutannya diturunkan paksa oleh MPR melalui Sidang Istimewa 21 Juli 2001.

Gus Dur sudah turun dari kursi kepresidenan, namun Gus Dur akan terus memperjuangkan demokrasi dengan menggandeng Rachmawati Soekarnoputri sampai titik darah penghabisan, meski harus berlinang air mata darah. (Kompas, 27/7/2001)Proses turunnya Gus Dur dari kursi presiden telah membuka mata kita, paling tidak terhadap orang-orang yang sebelumnya memandang secara sinis, under estimate terhadap para pendukung Gus Dur dari nahdliyin bahwa mereka mungkin akan "ngamuk" karena kiainya diturunkan, ternyata hanya isapan jempol. Semua prediksi benar-benar mental, tertolak dengan kedewasaan yang diberikan para pendukung Abdurrahman Wahid yang terkenal fanatik terhadap "gurunya". Hal ini salah satunya tentu berkat kesigapan para kiai yang ada di belakang Gus Dur untuk menyadarkan jemaahnya, selain peran Gus Dur sendiri yang bersikap masa bodoh terhadap SI yang digelar untuk menurunkan dirinya, bahkan sebelumnya Gus Dur dengan tegar mengeluarkan dekrit yang akhirnya benar-benar dilematis buat Gus Dur sendiri. Kiai "Langitan" katanya ada di belakang keluarnya dekrit, selain beberapa NGO. Namun, sudahlah, tidak usah berpanjang-panjang memperdebatkan siapa yang menjadi "aktor" dikeluarkannya dekrit itu.

Tentu ada yang tidak rela karena Gus Dur diturunkan secara paksa oleh MPR, yakni mereka yang tergolong "santri-santri militannya Gus Dur". Massa inilah yang menurut hemat saya harus menjadi agenda utama perjuangan Gus Dur setelah turun dari jabatan presiden, sehingga nahdliyin sebagai warga terbesar di negeri ini akan semakin jelas perannya dalam memperjuangkan cita-cita civil Islam. Civil Islam akan menjadi gerakan keagamaan yang santun, ramah, serta humanis sebagaimana sifat asli dari agama-agama. Di sini perjuangan Gus Dur dengan NU bisa kita harapkan ke depan. Oleh sebab itu, tulisan ini tidak akan membahas proses turunnya Gus Dur dari kursi presiden, karena banyaknya polemik yang ada di sana. Tulisan ini akan memfokuskan pada tema civil Islam dari NU dengan Gus Dur sebagai motornya.

Perjuangan "Civil Islam"
Kita memang tidak ragu mengatakan bahwa NU memiliki jamaah yang sangat besar di Indonesia. Oleh karena itu, warga yang besar ini akan sangat berpengaruh dalam menentukan hitam-putihnya bangsa ini. Apabila pengaruh yang dibawanya adalah yang jelek, maka warna yang akan berkembang adalah yang jelek (baca: hitam). Tetapi, jika pengaruh yang berkembang adalah pengaruh yang baik, maka yang akan berkembang adalah warna yang baik (baca: putih). Untuk menuju pengaruh yang putih tersebut dibutuhkan perjuangan yang serius, sistematis, dan kontinyu, bukan gradual dan parsial.

Sebagai gerakan keagamaan, NU sebenarnya sudah cukup memiliki basis massa. Hanya disayangkan acapkali tidak dikelola secara maksimal sehingga sumber daya yang melimpah tersebut terkesan berserakan tidak beraturan. Akibat dari pengelolaan yang kurang maksimal tersebut, cita-cita yang pernah dilemparkan Gus Dur yakni NU sebagai gerakan Islam kultural, atau dengan sebutan gerakan "pribumisasi Islam" seakan-akan berhenti pada tataran elite NU saja, tidak tertransformasi sampai tataran grass root. Padahal kita ketahui, tataran grass root inilah yang sangat penting diperhatikan karena akan sangat membantu perjuangan yang selama ini Gus Dur lakukan.
Gus Dur, yang mantan presiden kita, itu memang bukan orang baru dalam wacana civil society maupun civil religion sebagaimana digalakkan di dunia lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO). Sejak tahun 1970-an, Gus Dur telah aktif di pelbagai LSM yang banyak dikenal orang sebagai salah satu organisasi nonpemerintah yang getol memperjuangkan civil society, sekalipun istilah civil society di Indonesia baru ramai dibicarakan sejak awal tahun 1990-an, namun perjuangannya sudah sejak lama dikenal oleh publik dengan model pelatihan, pendidikan politik, advokasi, atau lokakaryanya.

Sebagai orang yang lama terlibat aktif dalam gerakan civil society, maka berharap pada Gus Dur untuk tampil kembali dalam memperjuangkan civil Islam lewat NU buat saya bukanlah hal yang berlebihan. Gus Dur jelas memiliki kemampuan untuk itu, tanpa mengabaikan kiai-kiai yang lain, baik dari lingkungan NU sendiri maupun di luar NU (baca: Muhammadiyah), misalnya. Sifat kritisnya terhadap rezim berkuasa merupakan modal yang sangat berharga bagi menjadi alat kontrol yang efektif. Sifat kritis Gus Dur sudah terbukti sejak rezim Soeharto berkuasa, sehingga Gus Dur dikuyo-kuyo bersama Sri Bintang Pamungkas dan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Presiden (kini Presiden RI).

Modal lainnya dari Gus Dur untuk memperjuangkan tumbuhnya civil Islam adalah sifat independen dan liberalnya. Independensi dalam berpikir serta liberalnya pemikiran Gus Dur akan memberikan nilai tersendiri bagi masyarakat, pengikut maupun pengagum, sekaligus rival-rivalnya. Independensi pemikiran ini merupakan modal sangat mahal harganya, apalagi pada saat kita sulit menemukan orang yang berani berkorban demi orang banyak dengan mengorbankan kepentingan pribadi, keluarga, dan teman-temannya. Pengalaman rezim Soeharto telah membuktikan bagaimana orang-orang independen (baca: intelektual independen) ibarat binatang langka, karena memang setiap hari segala sepak terjangnya diawasi untuk dicari-cari kesalahannya, kemudian dijebloskan dalam penjara. Gus Dur adalah salah satu dari intelektual yang tidak luput dari incaran rezim ketika itu. Dengan demikian Gus Dur sudah sangat terbiasa dengan tekanan, ancaman, maupun teror.

Oleh karena, independensi dan liberalnya pemikiran yang dikembangkan oleh Gus Dur, NU di bawah pimpinannya-ketika itu dan berimbas sampai sekarang-bisa dibilang menempati posisi utama dalam proses demokratisasi dan civil society. NU berkembang menjadi organisasi "tradisional" yang sangat progresif dan maju. Sekarang inilah saatnya Gus Dur kembali membawa warga NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk memperjuangkan civil Islam sehingga Islam di negeri ini tidak tampil sebagai agama yang sangat menakutkan dan kejam.

Apakah Gus Dur akan berhasil dalam memperjuangkan civil Islam atau gagal, terletak dari kesabaran Gus Dur sendiri untuk melakukan transformasi sikap independensinya dan pemikiran yang selama ini menjadi trade mark-nya. Di samping itu, ditentukan pula oleh kesiapan nahdliyin untuk menerima sikap dan pemikiran Gus Dur yang memang kadang-kadang sulit dipahami dan dimengerti. Oleh karena itu, Gus Dur benar-benar dituntut sabar dan tidak memaksakan pendapatnya, karena hal ini akan menjadi preseden buruk bagi Gus Dur sendiri dan perkembangan demokrasi yang diharapkan lahir dari civil Islam.

Salah satu metode-bila boleh dikatakan demikian-untuk melakukan transformasi sikap dan pemikiran Gus Dur yang memang sangat kita perlukan sekarang ini adalah dengan men-training kiai-kiai muda (Gus-Gus di lingkungan pesantren) secara intensif berkaitan dengan tema-tema demokrasi, HAM, pluralisme, dan jender yang diset dengan meminjam tradisi pendidikan Paulo Freire, yaitu pendidikan yang membebaskan, terutama bagi mereka yang terpinggirkan dan tertindas serta pengembangan wacana keagamaan yang inklusif-dialogis.

Dengan setting semacam itu, saya kira perjuangan Gus Dur tentang civil Islam secara perlahan-lahan, namun pasti akan bisa terwujud, karena secara basis massa mereka memiliki dan bisa ditularkan terus-menerus. Mengapa harus dengan model pendidikan yang membebaskan dan wacana agama yang inklusif-dialogis, hal ini karena selama ini pendidikan yang dikembangkan di negeri ini adalah pendidikan yang monolog, sehingga bersifat indoktrinasi, tidak memberikan ruang untuk berbeda pendapat, berpikir alternatif. Akibat yang sudah kita peroleh adalah banyak orang berpendidikan, namun moralitasnya nol besar. Orang berpendidikan, tetapi nilainya sangat jauh sehingga tetap bermental korup, bermental babu, jongos, serta tumbuh menjadi "intelektual tukang", yang kerjanya melakukan "pelacuran intelektual".

Berkaitan dengan keharusan wacana agama yang inklusif-dialogis hal ini karena selama kurang lebih 32 tahun yang, rezim Soeharto dengan sangat rapi dan sistematis menjadikan agama tak lebih sebagai justifikasi dan legitimasi politik kekuasaan. Akibatnya, agama tidak memiliki daya kritis dan progresifnya yang sebenarnya menjadi ciri utama profetik agama-agama. Agama senantiasa berada di bawah "ketiak" kekuasaan, sehingga agama menjadikan orang beragama sangat intoleran terhadap sesama pemeluk agama, dialog tidak pernah terjadi karena mendialogkan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama akan dicap "pemberontak", menggugat bahkan mengingkari agama itu sendiri, sehingga layak untuk dilenyapkan (baca: halal darahnya, alias boleh dibunuh). Pendek kata, sesama pemeluk agama menjadi saling mengancam atau terancam.
Untuk menghindari berkembangnya wacana agama yang demikian sadis, kejam, dan mengancam seperti itu Gus Dur beserta para pengikut setianya harus memperhatikan masalah ini sebagai problem serius, setidaknya menjadi salah satu agenda utama sehingga kesalahan pada masa rezim Soeharto tidak terulang kembali.

Sebagai penutup, dukungan yang telah diberikan oleh beberapa intelektual seperti Goenawan Mohamad, Hermawan Sulistyo, Eep Saefullah Fattah, Emmy Hafild, serta Sandyawan Sumardi, terhadap Gus Dur setelah turun jadi presiden untuk memperjuangkan demokrasi harus terus dijaga dan dikembangkan untuk membangun dan menumbuhkan civil Islam karena akan sangat bermanfaat bagi Indonesia yang majemuk dari segi agama.
Apabila terdapat kritik yang tajam terhadap NU yang dianggap telah keluar dari Khittah 1926, karena NU dianggap telah berpolitik praktis, maka sekarang inilah saatnya bagi Gus Dur untuk menempatkan kembali NU sebagai basis perjuangan civil Islam di Indonesia. Dengan demikian, kritik yang dilontarkan menjadi cambuk yang sangat bermanfaat bagi NU sendiri serta jamiahnya untuk membawa kembali NU sebagai gerakan sosial keagamaan, bukan gerakan politik praktis karena banyaknya kiai yang masuk dalam partai politik.

Relevansi perjuangan atas civil Islam oleh Gus Dur dengan NU-nya menurut hemat saya sangat tepat, apalagi belakangan tuntutan beberapa kelompok yang mengatasnamakan Islam, (FPI, Front Pembela Islam Surakarta, PPMI, Persaudaraan Muslim Sedunia) dengan gencarnya mengupayakan berlakunya syariat Islam, atau berlakunya negara Islam di Indonesia, (Kompas, 28/8) di mana hal ini diakui atau tidak masih menyisakan banyak pertanyaan dan ketakutan. Dengan perjuangan civil Islam yang Gus Dur lakukan akan menjadikan Islam yang benar-benar agama sipil, agama yang berwajah santun dan tidak formalistic.

Safari Gus Dur ke pesantren-pesantren belakangan ini juga akan dengan sendirinya makin "mendekatkan Gus Dur" dengan habitatnya, sehingga lama-lama, secara perlahan, namun bisa dipastikan akan terimbas oleh "virus" liberalisme pemikiran keagamaan Gus Dur yang sangat menekankan pada Islam substantif dan toleran, ketimbang Islam formalis dan intoleran. Di sinilah kemudian civil Islam yang diperjuangkan Gus Dur dengan NU-nya akan cepat menjadi kenyataan, di mana gerakan keagamaan belakangan semakin semarak dan mengarah pada radikalisme yang formalistis.

Oleh : Zuly Qodir, alumnus Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Bantul, DI Yogyakarta. Peneliti di Institut DIAN/Interfide Yogyakarta.

Sumber: Kompas / Rabu, 3 Oktober 2001

Rekonstruksi Paradigma Pendidikan-Industri

Pada era 80-an, pemerintah --dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan yang sekarang menjadi pendidikan nasional-- membangun paradigma pendidikan yang dikenal dengan pendidikan "siap-pakai". Implementasinya adalah dengan berdirinya program pendidikan SO-3 atau program pendidikan nongelar, khususnya untuk bidang teknologi dan ekonomi.

Hal ini menjelaskan satu hal, bahwa bidang teknologi dan ekonomi menjadi prioritas pembangunan nasional pada saat itu. Berbagai diskusi hingga kritik pun silih berganti, dan lahirlah program politeknik untuk lebih mempertegas implementasi kebijakan yang ada.

Paradigma ini masih berlanjut hingga era 90-an. Dan, tidak hanya terbatas pada pendidikan tinggi, tapi juga pada tingkat sekolah menengah --khususnya sekolah menengah atas. Pada saat yang sama, pemerintah juga menggalakkan balai-balai latihan kerja (BLK) untuk mereka yang putus sekolah.

Hal yang "menarik" di sini adalah kesungguhan pemerintah untuk mencari solusi bagi para lulusan perguruan tinggi maupun sekolah menengah, agar dapat menyesuaikan diri pada dunia kerja --dalam hal ini jelas adalah dunia industri. Lebih jauh lagi, tentunya untuk mengurangi pengangguran para tenaga terdidik. Pada tingkat ini, tentunya semua pihak sangat mendukung dan memberikan apresiasi yang positif. Namun, program tersebut tidak seindah yang tertulis di dokumen-dokumen yang ada. Paling tidak, terdapat ketidaksiapan pemerintah dalam tiga hal.

Pertama, menyesuaikan kurikulum pendidikan yang benar-benar sesuai dengan karakter industri yang sedang berkembang, karena dunia industri ternyata berkembang lebih cepat dibandingkan dengan kurikulum pendidikan yang diajarkan di bangku pendidikan. Antisipasi kurikulum sebagai akibat langsung sentralisasi peyelenggaraan pendidikan --hingga saat ini pun masih menjadi momok bagi lembaga pendidikan-- justru melemahkan "niat baik" dari kebijakan yang telah ditelurkan dengan susah payah itu.

Kedua, hubungan dengan dunia industri nyaris dipaksakan, karena ketiadaan keterlibatan pihak industri dalam turut serta mempersiapkan tenaga terdidik tersebut. Dunia industri mengalami hambatan signifikan dalam sejumlah hal, terutama mentalitas bekerja, sikap, dan perilaku, hingga kemampuan (skill) khusus yang dibutuhkan industri yang bersangkutan.

Rekrutmen dari tenaga ahli di suatu industri tidak mudah dilakukan karena terdapat berbagai aturan yang menutup peluang bagi tenaga ahli yang hanya mengandalkan pengalamannya, bukan sertifikat formal yang dituntut oleh pemerintah. Persoalan sertifikasi mengajar ini tidak diantisipasi dengan tepat. Ketiga adalah pengalaman menghadapi dunia kerja-industri yang spesifik, seperti rutinitas, disiplin, dan kepatuhan pada mekanisme kerja di dunia industri yang bersangkutan.

Memasuki tahun 2000, kementerian pendidikan kembali menelurkan sebuah kebijakan untuk memberikan jawaban atas persoalan yang ketiga di atas, yakni dengan program yang dinamakan "Co-op" (Co-operatif Academic Education). Dalam konteks pengembangan pendidikan terdapat empat program pokok yang hendak dicapai untuk pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, yakni kesempatan memperoleh pendidikan, mutu pendidikan, relevansi pendidikan dengan pembangunan dan efisiensi pendidikan.

Di samping memberikan kesempatan berupa pengalaman kerja, program "Co-op" ini diharapkan juga dapat memecahkan dua persoalan lain yang telah disebutkan di atas dengan melakukan berbagai upaya yang selektif, misalnya peserta program "Co-op" ini berkemungkinan mendapat nilai SKS (satuan kredit semester) tertentu, peserta diseleksi berdasarkan hard skill (kemampuan akademis) dan soft skill (kepribadian, kemampuan bersosialisasi dalam dunia industri), maupun adanya kompensasi keuangan bagi peserta "Co-op" hingga jaminan asuransi sesuai dengan kemampuan perusahaan di mana para peserta ditempatkan.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana daya tampung bagi peserta "Co-op" ini dan kesinambungan program ini dengan memperhatikan karakteristik dunia akademik dan karakter dunia industri itu sendiri, serta pertumbuhan perekonomian Indonesia yang dalam beberapa tahun ke depan masih diperkirakan akan menurun dan sampai pada titik yang lemah dan lesu.

Daya tampung bagi peserta "Co-op" pastilah cukup terbatas. Untuk itu, pemerintah harus segera memikirkan bukan saja bagaimana menyalurkan para calon peserta "Co-op", tetapi juga memberikan solusi bagi pertumbuhan industri tersebut. Jadi, program ini bukan saja berawal dan berakhir di tangan kementerian pendidikan, tetapi juga harus lintas sektoral dengan kementerian perindustrian dan perdagangan serta Bappenas.

Memang, Tim Koordinasi Perencanaan Pendayagunaan Dana Luar Negeri untuk Pendidikan dan Pelatihan (Timkorrenda Diklat) terlibat dalam program ini, namun koordinasi ke kementerian perindustrian dan perdagangan juga memiliki peran signifikan, bahkan serikat pekerja pun sangat mungkin untuk memiliki peran dalam membantu terciptanya iklim kerja yang kondusif.

Hal ini mengingat banyaknya program penggunaan tenaga kerja yang bersifat "nonformal" maupun kontrak seperti ini, tidak terjamin sepenuhnya hak-hak yang menjadi segmen penting bagi kelancaran kerja yang dilakukannya.

Meskipun memiliki kelemahan daya tampung --bukankah daya tampung yang kecil justru akan mengefektifkan penyaringan peserta-- program ini masih sangat mungkin memiliki kesinambungan. Namun, persoalan yang sangat krusial adalah karakteristik dunia pendidikan-industri itu sendiri yang berbeda.

Pada tingkat yang paling dini, yakni ketika seorang calon peserta Co-op memasuki lembaga pendidikannya, sudah harus terlebih dahulu diperkenalkan rancangan program ini secara terbuka. Tujuan utamanya adalah merangsang iklim kompetitif bagi calon peserta Co-op, dan memberikan kesempatan bagi calon peserta untuk melakukan berbagai persiapan dan antisipasi logis untuk bidang yang akan menjadi wilayah kerjanya.

Dunia pendidikan kita sekarang sesungguhnya nyaris bergerak bertolak belakang dengan karakter dunia industri. Materi pengajaran yang konsepsional nyaris tidak aplikatif, kecuali ketika seseorang sudah memasuki jenjang pendidikan S-2.

Seharusnya, metode pengajaran yang kini diselenggarakan di program S-2 merupakan metode yang diselenggarakan di S-1. Yakni, metode yang lebih mengaktifkan peserta didik dalam melakukan apresiasi di dunia di luarnya. Bila ini dilakukan, barulah terjadi kesetaraan pada tingkat yang paling mendasar antara pendidikan-industri.

Kekecewaan dunia industri selama ini juga terletak pada kesiapan mental untuk bekerja. Banyak kalangan peserta didik di tingkat S-1 ke bawah yang tidak memiliki daya juang dalam menghadapi pekerjaan. Mereka lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Lebih mementingkan pendapatan (gaji) ketimbang keringat yang dikeluarkannya sebagai manifestasi dari pendapatan yang diterimanya.

Ini merupakan situasi buruk yang menimpa angkatan kerja di Indonesia pada segala tingkat. Hal ini lebih diperburuk lagi dengan berbagai persoalan yang meliputi kredibilitas pendidikan yang diterimanya.

Program Co-op yang baru saja diluncurkan Dirjen Dikti Depdiknas ini diharapkan sudah memulai tingkat kehati-hatian di awal kerjanya. Hal ini bukan saja menyangkut terselenggaranya program tersebut, tetapi menyangkut masa depan dunia kerja dan kualitas produk yang dihasilkan oleh tenaga kerja Indonesia di masa depan.

Dan, pedoman yang kini telah disosialisasikan di dunia kampus supaya lebih merata didapatkan oleh semua perguruan tinggi dan pihak-pihak yang ingin terlibat dalam program ini, terutama dunia industri yang memiliki kepentingan mendapat tenaga kerja yang berkualitas.

Program Co-op ini secara intrinsik juga telah mencoba mengatasi hal-hal yang kini menjadi program hubungan antara pendidikan-industri. Untuk itu rekonstruksi penting yang perlu dilakukan adalah kesamaan pandangan dalam hubungan dunia pendidikan dan industri tanpa mengorbankan satu pihak mana pun, termasuk calon peserta Co-op dan dunia industri itu sendiri.

Di samping itu, dunia industri juga harus lebih realistis dalam memandang, sejauh mana kualitas sumber daya yang mereka dapatkan tersebut berhubungan signifikan dengan kualitas produk yang akan dipasarkan.

Masyarakat luas, tentu sangat berharap, bahwa dunia pendidikan dan industri benar-benar dapat saling memberikan kontribusi, sehingga dunia pendidikan pun memiliki arah yang konstruktif dalam membangun penyelenggaraan pendidikannya, baik kurikulum maupun keahlian dan kerja sama yang dibangunnya.

-------------------------------
oleh: Autar Abdillah Penulis adalah pendiri Education Watch, staf pengajar Sendratasik FBS-Unesa, dan Kasubag Humas (YPTA) Untag Surabaya.


Sumber: Surabaya Post | 30-11-2001

Refleksi Nuzulul Quran Membangun kembali etos agama peradaban

Alquran sebagai teks inti (core texts) dalam sistem keberagaman umat Islam, papar Abu Zaid lebih lanjut, memiliki peran budaya yang tidak dapat diabaikan dalam membentuk wajah peradaban dan menentukan watak ilmu-ilmunya.

Dari perspektif imani, apa yang dilontarkan Abu Zaid itu merupakan afirmasi terhadap apa yang telah menjadi keyakinan absolut umat Islam terhadap kitab sucinya, Alquran. Dalam kerangka akidah umat Islam, Alquran diyakini sebagai pedoman hidup, tanpa sedikit pun perlu diragukan.

Di luar perspektif imani ini, kita dapat menangkap makna tersirat dari lontaran Abu Zaid di atas, bahwa Islam memiliki keunggulan pada segi otentesitas, karena peradaban yang muncul -- tanpa menegasikan pengaruh peradaban di luar Islam, seperti Yunani -- yang terinspirasi oleh teks Alquran.

Dengan ini bisa dikatakan pula, peradaban dalam Islam tumbuh dan berkembang karena adanya dorongan yang kuat dari ajaran agama. Dengan kata lain, dalam diri Islam terkandung suatu etos yang disebut sebagai agama peradaban. Hal ini jelas memiliki perbedaan mendasar, misalnya dengan perkembangan peradaban pada abad pencerahan yang identik dengan gagasan tentang kemajuan sosial, baik dalam bentuk kemenangan akal dan rasionalitas terhadap dogma maupun doktrin agama, memudarnya norma-norma lokal tradisional dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan danteknologi (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, Gramedia, 2001).

Berbeda sekali dengan Islam, peradaban pada abad pencerahan yang agaknya terus berlanjut pada era modern ini, dimulai dengan terlebih dahulu melakukan desakralisasi dan sekularisasi terhadap agama.

Implikasi yang ditimbulkan kemudian, memang begitu luar biasa. Peradaban di Barat berkembang begitu akseleratif serta menjadi ikon peradaban global. Tapi berkelindan dengan terjadinya akselerasi dan kemajuan itu, Barat menjadi lahan subur bersemainya sejumlah krisis fundamental. Dalam wujudnya yang kontemporer, Barat dari sisi kemajuan iptek mengalami, antara lain seperti disebut oleh John Naisbitt dalam bukunya High Tech, Hight Touch, (Mizan 2001) sebagai zone mabuk teknologi. Yaitu berkembangnya teknologi tinggi, tetapi jauh dari sentuhan kemanusiaan.

Kembali kepada peeradaban Islam, kenapa Alquran bisa menginspirasi munculnya peradaban? Marshall Hodgson (dalam Mochtar Pabottinggi, Islam antara Visi Tradisi dan Hegemoni Bukan Muslim, YOI, 1986) menemukan jawaban pada kualitas umat Islam sendiri yang ia sebut sebagai komunitas yang taat pada ajaran-ajaran Alquran. Ketaatan yang dimaksud Hodgson tentu saja bukan semata-mata ketaatan verbalis, yang agaknya sebagai suatu kewajaran, mengingat bahasa yang digunakan Alquran memudahkan mereka bila hanya sekadar membacanya.

Di lingkungan masyarakat kita, ketaatan verbalis seperti ini juga telah lama berkembang sebanding dengan pesatnya perkembangan lembaga pendidikan Islam, yang antara lain menjadikan Alquran sebagai core curriculum. Toh ketaatan yang demikian belum begitu signifikan hasilnya, karena yang muncul kemudian adalah komunitas pencita terhadap artistikal Alquran, seperti tradisi tadarus (membaca) Alquran di malam bulan Ramadan ini.

Lebih dari sekadar verbalisasi pesan-pesan Alquran tersebut, ketaatan terhadap ajaran Alquran perlu didasarkan pada pemahaman yang tercerahkan, agar bisa dicari makna kontekstual dan kaitan dialektisnya dengan realitas yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Bentuk ketaatan semacam inilah kira-kira yang dimaksud dengan komunitas yang taat oleh Hodgson, yang terbukti melahirkan pengaruh luar biasa bagi tumbuh dan berkembangnya sebuah peradaban.

Topangan metodologis jelas sangat dibutuhkan, agar ketaatan ini bisa ditumbuhkan. Yaitu, dengan mengembangkan tradisi hemmeneutik dalam membaca teks Alquran.

Sulit dibayangkan, sebuah teks dapat melahirkan kekuatan sejarah, jika teks hanya dibiarkan apa adanya, tanpa diimbangi dengan pemahaman dengan suatu kerangka metodologi yang kokoh, seperti yang dimiliki oleh hermeneutika. Sampai di sini bisa ditarik suatu pernyataan konklutif, kemajuan peradaban yang ditorehkan oleh generasi Islam terdahulu, karena berkat kemampuannya mengembangkan tradisi hermeneutik dalam membaca teks Alquran. Yang spektakuler berkat tradisi hermeneutik ini peradaban Islam mencatat pestasi di bidang keilmuan, yang nantinya memberikan pengaruh signifikan terhadap kemajuan peradaban di luar Islam, seperti yang telah dialami oleh Barat.

Tak diragukan lagi, teks Alquran, seperti dikemukakan oleh Komarudin Hidayat dalam bukunya Memahami Bahasa Agama (Paramadina 1996), nemantulkan gerak sentrifugal terhadap umat Islam untuk melakukan penafsiran dan pegembangan makna atas ayat-ayatnya, yang untuk selanjutnya terjadilah pengembangan intelektual, karena dorongan Alquran tersebut.

Sebagai contoh adalah konsep ilmu yang diakui oleh beberapa sejarah Islam non-Muslim, seperti Franz Rosenthal, sebagai salah satu konsep kunci dalam Alquran yang terbukti berperan menentukan dalam pembentukan peradaban Islam.

Bila ditarik dalam konteks sejarah yang dialami oleh umat Islam pada awal milenium ketiga ini, segera akan muncul romantisme untuk menyajikan kembali eksemplar sejarah Islam tersebut. Kenapa romantisme? Adalah fakta yang tidak terbantahkan, peradaban di abad ini tidak berada dalam hegemoni umat Islam, melainkan dalam hegemoni Barat. Tidak perlu diungkap akibat yang harus diterima oleh umat Islam dalam posisinya yang marginal. Seperti pada kasus 11 September lalu di New York, Islam menjadi sasaran empuk pihak Barat.

Di tingkat opini, misalnya karena lemahnya infrastruktur di bidang teknologi informasi dan komunikasi, umat Islam terkesan kelabakan dalam membendung arus opini Barat yang prematur: Islam sebagai agama radikal.

Sekedar romantisme, jelas sangat tidak memadai dalam mengembalikan sejarah agar bergerak ke Islam. Hal yang sama juga berlaku pada sikap yang reaksioner, eksklusif, radikal seperti yang ditampilkan oleh beberapa kelompok Islam di tanah air belakangan ini. Sebab, kecuali hanya semakin mengukuhkan citra yang kurang sedap, juga hanya akan semakin mempertebal sikap inferioritas umat Islam terhadap kelompok lain.

Maka, yang perlu dilakukan oleh umat Islam adalah, merumuskan kembali cara pandang yang lebih cerdas terhadap Alquran. Dan, bersamaan dengan ini pula, umat Islam musti secara serius memperbaiki infrastruktur strategisnya, semisal pendidikan yang dapat dijadikan penopang tegaknya kembali Islam sebagai agama peradaban.

Oleh : Syamsul Arifin (Kepala Pusat Studi Islam & Filsafat (PSIF) Unmuh Malang)

Sumber: Surabaya Post | Sabtu, 3 Desember 2001

Konflik dan Patologi Sosial, karena Formalisme atau Politisasi Agama?

DI harian ini, Jumat, 16 November lalu, ada dua penulis yang menggugat tajam formalisme agama. Pertama, Benny Susetyo: Menafsirkan Kembali Cara Beragama Kita (halaman 4); dan kedua, Muhtadi Abdul Mun'im: Menuhankan Agama? (halaman 5). Dengan pendekatannya masing-masing, keduanya memosisikan agama sebagai tersangka atas segala patologi dan konflik sosial yang terjadi di negeri ini. Menurut Benny, jika keberagamaan kita terjebak pada bentuk formalisme beragama, akibatnya agama menjadi terasing dengan persoalan kehidupan manusia. Agama yang seharusnya menjadi pembebas, malah terjebak pada aspek romantisme formal (alinea VI). Lebih jauh dia menganggap bahwa cara keberagamaan yang formal seperti itu akan menghasilkan manusia yang buas, picik, korup, dan gila segalanya (alinea XIII).
Dalam bahasa yang lebih lunak, Muhtadi melihat bahwa ketika agama melembaga menjadi institusi suatu komunitas, terjadilah reduksi sesuai paham kelompok. Sikap yang muncul dari eksklusivisme ini menumbuhkan fanatisme dan alih-alih menuhankan agamanya. Dari sinilah muncul fundamentalisme agama yang ikut menanamkan di alam bawah sadar para pengikutnya akan sesuatu yang tidak bisa diterima, selain paham yang mereka anut (alinea XI).
Pendapat kedua penulis ini bisa jadi merupakan instrospeksi, melihat sejujurnya apa yang tengah terjadi dalam ruang batin umat beragama. Sayangnya, mungkin karena terlalu jujur, keduanya kurang komprehensif dalam melihat realitas obyektif persoalan sosial politik yang terjadi di negeri ini. Menurut saya, menganggap segala bentuk kerusakan di negeri ini, terutama yang menyangkut kejahatan kemanusiaan, semata-mata disebabkan karena persoalan keagamaan, adalah naif. Cara Muhta-di misalnya, membandingkan antara Selandia Baru yang "kurang beragama", namun lebih jujur dari Indonesia yang dianggapnya lebih beragama (alinea I), saya rasa tidak relevan sama sekali.

Agama bukanlah "panacea"
Agama, menurut Islamolog terkemuka Indonesia Prof Dr Harun Nasution, berasal dari bahasa Sankrit yang terdiri dari dua kata: a=tidak, gam=pergi, jadi tidak pergi, diam di tempat, dan diwarisi turun-temurun. Dalam bahasa Eropa, agama disebut religi yang berasal dari bahasa Latin: relegere, yang berarti mengumpulkan/kumpulan, atau religare, yang artinya mengikat/ikatan. Dalam bahasa Arab, agama disebut din, yang berasal dari bahasa Semit, yang artinya undang-undang atau hukum (Nasution, 1984:9-10).
Banyak cendekiawan muslim (antara lain Menteri Agama pertama Republik Indonesia Prof Dr HM Rasyidi) yang mengkritik tajam pendapat ini, namun sayangnya tidak mampu memberikan alternatif pemahaman yang lebih mengena dan bisa diterima semua kalangan.
Tampaknya, seideal apa pun interpretasi manusia terhadap agama, pada ujungnya tetaplah berkesimpulan bahwa agama berisi ajaran-ajaran, doktrin, dan peraturan mengenai bagaimana tata cara hidup yang baik. Artinya, bisa dikatakan bahwa agama sama saja, misalnya dengan perundang-undangan, atau doktrin yang menjadi asas negara. Bedanya, jika undang-undang atau doktrin asas negara dibuat manusia, agama diyakini bukan buatan manusia, melainkan berasal dari sesuatu yang transenden, yakni Tuhan Yang Serba Maha.
Oleh karena berasal dari Yang Serba Maha inilah maka banyak orang salah kaprah, menganggap agama sebagai makhluk serba bisa. Padahal, sebagai doktrin, ajaran, atau aturan main-seperti yang lainnya-berfungsi atau tidaknya sangat tergantung pada siapa yang mengaktualisasikannya.
Betul bahwa agama memiliki kebenaran serba ideal karena berasal dari Tuhan sebagai Pemilik Kebenaran Mutlak. Tetapi, kebenaran agama bukanlah berada dalam ruang hampa yang bebas nilai. Meminjam istilah Clifford Geertz, agama tidaklah sesuatu yang otonom, melainkan berada dalam suatu realitas obyektif yang secara signifikan mempengaruhi, baik interpretasi maupun aktualisasi dari agama tersebut.
Memang, idealnya, agama harus tampil sebagai kritik kebudayaan, atau bahkan sebagai pemusnah segala bentuk ideologi yang destruktif bagi kemanusiaan. Tetapi, pada faktanya, antara agama dan budaya saling mempengaruhi satu sama lain, atau bahkan saling memperalat satu sama lain.
Memisahkan atau mengontraskan agama dengan budaya suatu masyarakat, sama artinya dengan mengangkat agama tinggi-tinggi sehingga tidak tersentuh manusia; atau, kalaupun bersentuhan dengan manusia, niscaya agama akan tampil menjadi doktrin antikebudayaan. Betapa ahistorisnya.
Dari uraian ini saya ingin mengungkapkan, bahwa meskipun agama bukanlah candu masyarakat-sebagaimana anggapan Karl Marx-bukan berarti menganggap agama sebagai obat mujarab bagi segala macam penyakit (panacea). Mengharapkan tegaknya supremasi hukum; berkurang atau terhapusnya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN); terciptanya kehidupan harmonis dan saling tolong menolong satu sama lain; dan lain-lain, hanya semata-mata bergantung pada perbaikan pola hidup beragama (se-perti pembaruan, penafsiran kembali, dan semacamnya), bukanlah jalan keluar yang tepat.
Fenomena patologi sosial bukanlah semata-mata disebabkan karena kesalahpahaman dan atau disfungsi agama, tetapi lebih karena faktor-faktor sistemik, terutama sistem politik yang secara signifikan sangat berpengaruh dan (bahkan) bisa mengintervensi dan memaksakan kehendak pada semua warga masyarakat.
Suatu sistem politik (negara) yang tiranik dan koruptif misalnya, sangat potensial atau bahkan dipastikan bisa menyebabkan seluruh aspek kemanusiaan-termasuk agama -menjadi tercemar. Hal ini bisa dipahami karena negara, seperti kata Thomas Hobbes, bisa menjelma menjadi "Tuhan" yang di samping memiliki kekuasaan mutlak, namun suatu saat juga bisa menjelma menjadi "leviathan", sejenis monster air yang jahat.

Formalisme agama
Berdasarkan pemikiran di atas, jalan keluar yang lebih tepat (meskipun bukan ideal) dari fenomena maraknya patologi sosial seperti KKN, konflik sosial, dan kekerasan, baik secara vertikal maupun horisontal seperti yang terjadi sekarang ini, bukan dengan menghindari formalisme, atau formalisasi agama.
Jika dilihat dari maknanya sebagaimana diuraikan di atas, agama bisa dikatakan sebagai bentuk formalisasi (berupa kumpulan=relegere, atau ikatan=religare agar tidak pergi=agam) dari serangkaian doktrin, etika, dan aturan main yang diyakini berasal dari Tuhan untuk kesejahteraan dan keharmonisan manusia seluruhnya-melalui seorang Nabi yang disebut umat Kristiani sebagai juru selamat, dan disebut umat Muslim sebagai pembawa rahmat.
Pada dataran implementasinya, tentu saja aspek formalisme merupakan bagian dari agama. Dalam Islam, aspek formal dari agama itu disebut ibadah mahdhah, yakni suatu aktivitas keagamaan yang harus mengikuti aturan main yang baku, seperti shalat, puasa, haji, zakat, tata cara menikah, dan mengurus jenazah.
Di luar aspek yang mahdhah ini, semua aktivitas yang konstruktif bagi kehidupan kemanusiaan pada hakikatnya bisa juga disebut ibadah. Artinya, aspek formal (mahdhah) dari agama merupakan bagian yang sedikit saja dari seluruh aspek kemanusiaan. Meskipun demikian, justru aspek yang formal inilah yang signifikan dari agama, yakni suatu aspek yang bisa membedakan pada batas mana suatu komunitas disebut umat beragama atau bukan.
Tanpa adanya aspek formal ini misalnya, kita tentu akan kesulitan membedakan sepasang suami-istri yang hidup berumah tangga, antara yang diikat dengan tali perkawinan/pernikahan dengan yang sekadar kumpul kebo (tanpa ikatan perkawinan). Singkat kata, aspek formalisme merupakan raison de et're dari suatu agama. Jadi, salahkah formalisme agama?

Akibat politisasi
Yang salah dari formalisme agama adalah ketika aspek kemanusiaan yang luas itu (yang bukan ibadah mahdhah) diformalisasikan sebagai bentuk ibadah dengan menyertakan simbol-simbol keagamaan, apa pun agamanya. Mengapa hal itu terjadi? Penyebabnya, bukan karena agama yang rakus ingin memformalkan semuanya, melainkan karena aspek di luar agama yang secara dominan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia termasuk agama.
Yang sangat berpengaruh itu, apalagi kalau bukan negara. Dalam suatu masyarakat di mana peran negara sangat dominan, akan dengan sendirinya terjadi persaingan untuk memperebutkan posisi-posisi penting dalam negara (kekuasaan). Dan, inilah yang sekarang terjadi di Indonesia.
Sialnya, dalam setiap persaingan, semua pihak niscaya mengerahkan bukan saja potensi kemampuan profesional yang ada pada dirinya, tetapi juga semua aspek yang memungkinkan bisa dijadikan komoditas untuk memenangkan persaingan itu.
Bahkan dalam kasus Indonesia, aspek yang sangat irasional sekalipun, seperti klenik, perdukunan, dan ajian kesaktian (ingat kasus dukun santet dan pasukan berani mati yang kebal itu!) ikut dikerahkan untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan.
Lantas, bisakah agama melarikan diri dari jeratan kepentingan kekuasaan? Inilah persoalannya!
Menurut para peletak dasar ilmu sosial, seperti Max Weber, Erich Fromm, dan Peter L Berger, agama merupakan aspek yang sangat penting (meskipun tak selalu dominan-penulis) dalam kehidupan manusia. Sementara para agamawan pasti menganggap agama sebagai aspek yang paling besar pengaruhnya, bahkan sampai pada aspek yang terdalam (seperti kalbu, ruang batin), dari kehidupan kemanusiaan.
Tentu, para politisi yang mabuk kekuasaan akan melihat dengan jeli dan tidak akan menyia-nyiakan sisi potensial dari agama ini. Maka, jadilah agama sebagai komoditas yang sangat potensial untuk merebut kekuasaan.
Yang lebih sial lagi, di antara elite agama (terutama Islam dan Kristen yang ekspansionis), banyak di antaranya yang berambisi ingin mendakwahkan atau menebarkan misi (baca, mengekspansi) seluas-luasnya keyakinan agama yang dipeluknya. Dan, para elite agama ini pun tentunya sangat jeli dan tidak akan menyia-nyiakan peran signifikan dari negara sebagaimana yang dikatakan Hobbes di atas. Maka, kloplah, politisasi agama menjadi proyek kerja sama antara politisi yang mabuk kekuasaan dengan para elite agama yang juga mabuk ekspansi keyakinan.
Namun, perlu dicatat, dalam proyek "kerja sama" ini tentunya para politisi jauh lebih lihai dibandingkan elite agama. Dengan retorikanya yang memabukkan, mereka tampil (seolah-olah) menjadi elite yang sangat relijius yang mengupayakan penyebaran dakwah (misi agama) melalui jalur politik. Padahal sangat jelas, yang terjadi sebenarnya adalah politisasi agama.
Mereka yang termakan tipuan ini akan serta merta menuduh agama sebagai biang kerok, karena pada faktanya proyek politik ini senantiasa berdampak sangat buruk bagi kemanusiaan. Wallahu a'lam bishshawab!

Oleh : Abd Rohim Ghazali, Analis politik Lembaga Hikmah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mahasiswa pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia .

Sumber: Kompas | Sabtu, 1 Desember 2001

Media Pembelajaran dalam Al-Qur’an

Fenomena baru di negara-negara non muslim terakhir ini, seperti di negara Amerika Serikat (AS) pasca hancurnya gedung WTC adalah masyarakat disana banyak yang membeli dan membaca Al-Qur’an. Kitab suci ini menjadi kitab terlaris dan banyak dibaca orang di Negara adikuasa tersebut. Maka tidak heran jika Philip K. Hitti mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang paling banyak dibaca sepanjang sejarah umat manusia.

Al-Qur'an juga merupakan satu-satunya kitab yang terus-menerus dihafal oleh ratusan ribu manusia. Bukan hanya oleh mereka yang mengerti bahasa Arab, namun juga oleh mereka yang sama sekali tidak pernah belajar bahasa Arab. Mereka membaca dengan tekun dan menghafal dengan telaten. Sehingga banyak diantara mereka mengkhatamkan bacaan al-Qur'an beberapa puluh kali dalam hidupnya, dan menyelesaikan hafalan al-Qur'an dari halaman pertama hingga terakhir, tanpa satu huruf pun tertinggal. Tidak ada satu buku atau kitab suci pun yang bisa menandingi atau paling tidak menyamai al-Qur'an dalam hal ini.

Itu baru dalam hal dibaca dan dihafal. Bagaimana halnya dengan usaha menggali kandungan al-Qur'an? Ratusan hingga ribuan buku telah diterbitkan dalam usaha manusia menggali kandungan al-Qur'an. Dari buku yang hanya memuat beberapa halaman hingga buku yang memuat puluhan jilid. Dari buku paling sederhana yang ditujukan untuk orang-orang awam, hingga buku yang jlimet yang hanya bisa dipahami orang-orang yang mempunyai kapasitas keilmuan yang memadahi. Dari buku yang mengajarkan cara membaca al-Qur'an, hingga buku yang membahas makna al-Qur'an kata perkata. Dari buku yang ditulis orang yang sangat shaleh sampai orang yang amat thaleh; dari orang yang ingin menunjukkan kemukjizatan al-Qur'an hingga orang yang mencoba menunjukkan kepalsuan al-Qur'an sebagai wahyu dari Tuhan Semesta Alam. Dan seterusnya.

Dalam bahasan sub bab kali ini, penulis mencoba dari Al-Qur’an yang cukup umum (general) itu, mengambil suatu bahasan tentang Amthal (perumpamaan-perumpamaan) dalam Al-Qur’an kaitannya dengan pendidikan. Apakah ada hubungannya materi (amthal) tersebut atau tidak? Secara tegas tulisan ini berdasar definisi dari amthal pada bahasan sebelumnya ada keterkaitan antara materi amthal dengan pendidikan (khusus konsentrasi kajian media pembelajaran). Artinya studi tentang Amthal dalam studi Al-Qur’an ketika disandingkan dengan pendidikan, penulis menyebutnya dengan sebuah media (alat) dalam pembelajaran.

Sadiman (2006) menyebutkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.

Berdasarkan definisi tersebut, media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang kegiatan belajar siswa.

Bruner (1966) mengungkapkan ada tiga tingkatan utama modus belajar, seperti: enactive (pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau gambar), dan symbolic (pengalaman abstrak). Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan serta perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya melalui proses belajar. Sebagai ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa dan bagaimana mencangkok.

Dalam tingkatan pengalaman langsung, untuk memperoleh pemahaman pebelajar secara langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang mencangkok dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat membaca atau mendengar dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat orang mencangkok atau dengan pengalamannya sendiri.

Walhasil, bahwa media pembelajaran merupakan medium (alat) penyampai pesan (materi dari seorang pengajar kepada peserta ajar dalam pendidikan) untuk maksud tertentu agar penerima menjadi faham (baca: Alo, 2010). Begitu juga amthal dalam Al-Qur’an, bahasa-bahasa (amthal) itu digunakan oleh Allah SWT sebagai penyampai teks dengan maksud agar supaya gampang difahami makna teksnya oleh pendengar (manusia). Sehingga adanya media (amthal) sangat penting dalam beberapa aspek, baik dalam melakukan komunikasi ditengah-tengah masyarakat juga dalam pembelajaran di dalam dunia pendidikan.

Oleh: Ach. Syaiful A’la, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya NU Online | 07/02/2011

Islam dan Positive Thingking

Islam memfasilitasi umat manusia agar dapat menikmati hidup ini dengan tenang, damai dan tanpa beban. Menikmati hidup dengan selalu tersenyum, ringan dalam melangkah, serta memandang dunia dengan berseri-seri. Inilah implementasi dari ajaran Islam yang memang dirancang untuk selalu memudahkan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Untuk mewujudkan hidup yang sealu tersenyum, ringan dan tanpa beban tersebut; Islam memberikan beberapa tuntunan. Yaitu di antaranya: menjaga keseimbangan, selalu berbaik sangka (Khusnudzdzan), juga dengan berpikir positif. Namun karena keterbatasan ruang dan waktu, saya akan membatasi pembahasan kali ini hanya tentang khusnudzdzan dan berpikir positif.

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: mengapa Islam sampai menekankan pentingnya khusnudzdzan dan berpikir positif? Paling tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini.

Pertama, kita harus khusnudzdzan dan berpikir positif karena ternyata orang lain seringkali tidak seburuk yang kita kira. Contoh terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa Alaihima As-Salam. Suatu kali, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari seseorang yang sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut.
Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu bertanya sampai Nabi Khidhir menjelaskan.

"Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa bersabar", tambah Nabi Khidhir lagi. Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!!
Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tak sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu menafsirkan yang bukan-bukan. (Qs. Al-Kahfi: 60-82).

Dalam kisah Qur'ani ini, poin penting yang dapat dipetik: kita harus selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain.
Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik apa yang ada di hatinya…dan seterusnya.

Kedua, berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan. Kita dapat menemukan pembuktiannya dalam teladan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ketika seluruh kafilah-kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun yang terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta melumuri wajah beliau dengan pasir.

Saat itu, datanglah malaikat ke hadapan Rasulullah, "Wahai Muhammad, (dengan perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya jika kamu berdoa kepada Allah agar membinasakan mereka seperti doa Nuh –`Alaihi As-Salam—atas kaumnya." Rasulullah segera mengangkat tangan beliau.
Tetapi yang terucap dalam doa beliau bukanlah doa kutukan, melainkan untaian maaf dan harapan bagi orang-orang yang telah menyakitinya, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya (mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena mereka tidak tahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu." ("Al-Ahadits Al-Mukhtarah, karya Abu `Abdillah Al-Maqdasi, 10/14).

Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai dengan ajaran Al-Qur'an, "Tanggapilah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab." (Qs. Al-Fushilat: 34)

Ketiga, berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak memendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain.

Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang sedang duduk santai bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera mengingatkan Aisyah, "Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal." (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Ra.). Subhanallah!! Beliau yang seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu, ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif –agar menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah dari seorang sufi: "Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Keempat, berpikir positif bisa membuat hidup kita lebih legowo, karena toh Allah Subhanahu wa Ta'ala seringkali menyiapkan rencana-rencana yang mengejutkan bagi hambaNya. Suatu saat, Umar bin Khaththab Radhiyallahu `Anhu dirundung kegalauan yang menyesakkan.
Salah seorang puteri beliau, Hafshah Radhiyallahu `Anha, baru saja menjanda. Maka Umar datang menemui Abu Bakar Radhiyallahu `Anhu menawarinya agar mau menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar menolak.
Kemudian Umar menawari Utsman bin Affan Radhiyallahu `Anhu untuk menikahi Hafshah, namun Utsman pun menolaknya. (Shahih Al-Bukhari, 4/1471. Versi penjelasnya juga dapat dibaca dalam Tafsir Al-Qurthubi, 13/271).

Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam tentang sikap kedua Sahabat tersebut. Maka Rasulullah menuntun Umar agar selalu berpikir positif sehingga bisa menjalani hidup dengan legowo. Rasulullah bahkan
berdoa, "Semoga Allah akan menentukan pasangan bagi Hafshah, yang jauh lebih dari Utsman; serta menentukan pasangan bagi Utsman, yang jauh lebih baik dari Hafshah."

Ternyata, tak lama setelah itu, Rasulllah menikahkan Utsman dengan puteri beliau sendiri. Dan setelah itu, beliau pun menikahi Hafshah. Allahumma InnĂ® qad ballaghtu, fasyhad…! [Abdullah Hakam Shah, Lc] pesantrenvirtual.com

Antara Kebencian dan Keadilan

Dulu di akhir tahun 1999, banyak orang yang mencaci-maki Pak Harto dan mempersepsikannya sebagai biang kerok atas segala krisis multidimensi yang terjadi di republik ini. Orang-orang yang semula "menjilat-jilat" Pak Harto pun mulai menjauhinya agar terbebas dari stigma Soehartois. Tetapi Gus Dur, yang oleh media terbitan Singapura, The Sunday Times dijuluki sebagai The Kingmaker itu dengan entengnya dan tanpa beban malah berkunjung ke kediaman Soeharto di Cendana.

Manuver yang tak lazim itu tentu saja membuat banyak orang heran, marah, bahkan banyak pula yang menghujat kunjungan itu, mengingat mantan presiden itu telah dicap sebagai public enemy. Lantas, apa jawaban Gus Dur menanggapi hujatan ketika itu? "Pak Harto masih kuat. Pendukungnya yang berewokan dan serem-serem itu bisa marah kalau Pak Harto terus dihujat," demikian jawab Gus Dur enteng.

Terlepas dari anasir politis yang melatarbelakangi tindakan Gus Dur yang nyleneh bin nekat itu, ada satu pelajaran yang dapat kita petik untuk direnungkan bersama. Boleh jadi Gus Dur tidaklah membenci Soharto sebagai sesama manusia yang juga masih memiliki sifat kemanusiaan, tetapi menurut penulis Gus Dur hanya membenci kediktatoran mantan penguasa Orde Baru itu. Jadi, Gus Dur tidaklah membenci "siapanya" Soeharto, tetapi membenci "apanya" Soeharto.

Ini persis seperti yang pernah diucapkan oleh Sahabat Ali r.a., Undzur ma qola wala tandzur man qola, (Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan). Di sinilah tampak dengan jelas nilai-nilai keadilan (al-'adalah) yang coba diajarkan Gus Dur dalam meletakkan antara sikap kebencian dengan nilai-nilai humanisme secara tepat, seimbang dan proporsional.

Sifat membenci atau kebencian (al-bughdh) adalah suatu keniscayaan yang pasti dimiliki oleh setiap makhluk yang bernama manusia, sebab di dunia ini ada dua hal yang senantiasa berpasang-pasangan; siang-malam, baik-buruk, cinta-benci dan seterusnya. Jadi, jika ada yang mengatakan "saya tak pernah membenci apapun atau siapapun", maka orang seperti ini perlu dipertanyakan kemanusiaannya karena sok bertipologi malaikat. Oleh karena sifat membenci dan mencintai itu musti ada pada setiap diri kita, maka kewajiban kita adalah me-manage¬-nya secara profesional agar kecintaan dan kebencian itu dapat diletakkan sesuai porsinya dan mampu menghasilkan kemaslahatan dan rahmatan lil'alamin.

Al-Qur'an dengan telah tegas menggariskan: "…Dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu berbuat tidak adil. Berbuat adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-Maidah : 8). Ayat ini secara jelas memberi pelajaran kepada kita bahwa meskipun kebencian itu lazim ada pada siapapun, dengan tegas Al-Qur'an mensyaratkan tidak boleh sama sekali kebencian itu dijadikan alasan untuk memperlakukan institusinya atau orang yang dibencinya secara tidak adil.

Contoh misalnya, menghadapi kasus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) boleh-boleh saja orang tidak setuju dengan keberadaan kelompok ini, tetapi sekali-kali ketidaksetujuan itu tidak boleh kita lampiaskan dengan berlaku anarkhis terhadap mereka. Penganiayaan yang mengakibatkan jatuhnya korban di pihak HKBP itu menandakan bahwa pelakunya lebih dikuasai oleh rasa kebencian yang berlebihan sehingga tidak lagi bisa berlaku adil terhadap mereka. Bukankah masih ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah tersebut tanpa harus menumpahkan darah? Bukankah mereka itu juga masih menjadi bagian dari saudara kita sebangsa (ukhuwah wathaniyah)? Di samping itu sebagai bangsa Timur, setiap menghadapi persoalan yang besar kita harus senantiasa mengedapankan sikap kegotongroyongan dan permusyawaratan dalam bingkai nasionalisme dan pluralisme. Jadi, silahkan kita membenci apapun atau siapapun, tetapi sekali-kali kebencian itu harus diposisikan secara profesional, jika tidak maka kebencian itu sendiri yang akan menyulut konflik horisontal yang berkepanjangan.

Rasulullah SAW pernah diganggu bahkan disakiti oleh seorang kafir Quraisy berkali-kali, tetapi ketika si kafir Quraisy suatu hari tidak tampak lagi batang hidungnya karena sakit, Rasulullah SAW lah yang pertama kali datang menjenguknya. Betapa mulianya panutan kita itu. Pemimpin manakah di dunia ini yang dapat menandingi akhlak beliau? Tokoh manakah yang mampu menyamai kearifan beliau? Beda sekali dengan kita, tersentil sedikit saja bereaksi bukan main hebatnya.

Ada salah satu kebiasaan yang mungkin masih kita lakukan, yaitu kebencian gebyah uyah atau kebencian pukul rata. Misalnya, kita membenci salah satu sikap seseorang yang menurut kita sudah keterlaluan, karena saking bencinya kita menjadi gelap mata dan menganggap orang itu akan brengsek selamanya. Atau karena saking tidak sukanya lantas kita memvonisnya secara membabi buta dengan menyatakan bahwa semua af'al (perbuatan) orang yang tidak kita sukai itu "kurang ajar" semuanya hanya karena satu perbuatan yang tak kita sukai. Ataupun juga, karena terlalu membenci seseorang lalu ketika kita secara tak sengaja bertemu orang yang sangat kita benci itu kita sering membuang muka, bahkan memberi sedikit senyumanpun terasa berat, padahal ini sama saja dengan tidak "memanusiakan" manusia karena menganggap orang yang kita benci itu hanya sebagai "mayat berjalan".

Tindakan semacam ini jelas-jelas menunjukkan bahwa kita tak profesional mengelola kebencian, yakni tak mampu menjunjung tinggi prinsip keadilan ketika kebencian sedang menguasai jiwa. Padahal dengan jelas Tuhan telah berfirman bahwa tak boleh sekali-kali kebencian kita itu menjadikan kita alasan untuk berlaku tidak adil, meskipun hanya sebatas malas memberikan senyuman di saat kita dikuasai perasaan benci.

Dalam konteks membenci atau mencintai sesama, Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya telah memberikan batasan: "Ahbib habibaka haunan ma, 'asa an yakuna baghidhoka yauman ma. Wa abghidh baghidhoka haunan ma, 'asa an yakuna habibaka yauman ma" (Cintailah kekasihmu itu sekedarnya saja, boleh jadi kamu akan membencinya suatu ketika. Dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja, boleh jadi kamu akan mencintainya suatu ketika) (HR. Tirmidzi). Dengan tegas sabda Rasulullah SAW ini menjelaskan kepada kita bahwa meskipun kecintaan atau kebencian itu sebuah keniscayaan, akan tetapi ia tak boleh berlebihan, dalam arti cintailah dan bencilah apa saja yang kita cintai dan kita benci dalam tataran yang wajar supaya kita tetap bisa berlaku adil, dan supaya kita tetap menjadi manusia.

Jika pada suatu saat kita memang harus membenci seseorang, silahkan benci saja dia. Tetapi janganlah kebencian itu dengan harga mati, agar humanisme kita tidak ikut mati. Janganlah kebencian itu membabi buta, agar hati kita tidak ikut-ikutan buta. Jika karena kebencian yang overdosis itu humanisme kita benar-benar mati dan hati kita telah buta, maka jelas kita tak akan pernah mengenal keadilan, baik terhadap lingkungan, orang lain maupun terhadap diri kita sendiri. Bukankah Tuhan telah berfirman bahwa sikap adil itu dekat dengan ketaqwaan. Jadi jika kita memang banyak tidak melihat kebaikan pada diri seseorang, janganlah orang itu kita musnahkan kemanusiaannya, janganlah ia kita rampas semua hak-haknya (Mala yudraku kulluh, la yutraku kulluh).

Berkaitan dengan hal ini, ada satu pepatah yang menyatakan : "Errors like straws upon the surface flow; he who would search for pearls must dive low", maksudnya, mencari kesalahan orang lain itu mudah, tetapi kita perlu berusaha untuk mengetahui kebaikan-kebaikannya. Artinya, di antara sifat-sifat jahat seseorang, pastilah ia masih punya sifat baik.

Oleh karena itulah, mengapa kita tidak boleh menghilangkan hak-hak kemanusiaan seseorang meskipun kebencian kita sudah menggunung? Agar kita tetap menjadi makhluk yang bernama manusia. Inilah sesungguhnya yang disebut dengan manajemen kebencian, yaitu me-manage kebencian kita terhadap apapun atau siapapun yang kita benci secara prefosional, agar kebencian kita itu dapat diletakkan pada posisi yang proporsional. Karena dengan begitulah, kita akan tetap menjadi manusia yang berkeadilan di antara manusia-manusia yang mungkin saja kita sebut-sebut sebagai manusia "setengah manusia" atau manusia yang tak "berperi-kemanusiaan" sekalipun.Wallahu 'alam bishshawab.

Oleh: Imam Hanafie El-Arwany, Ketua Jurusan STAI Sangatta Kutai Timur NU Online | 21/09/2010

Membuat Bingkai Tulisan atau Gambar

Sobat blogger yang mungkin belum tahu cara membuat bingkai (kotak) pada tulisan. Atau jika sobat belum tau baca tulisan saya DISINI. Mungkin ada yang sudah tahu tapi tidak tahu bagaimana membuat tulisan dalam bentuk script HTML di dalam kotak tersebut. Atau mungkin juga sudah tahu tapi belum mengerti benar akan perintah-perintah yang ada karena hampir di setiap artikel mengenai bingkai ini tidak diberikan penjelasan yang memadai sehingga cukup menyulitkan bagi blogger pemula untuk memahaminya. Nah, mungkin tulisan ini akan berguna untuk mengatasi “ketidaktahuan” tersebut.

Jangan Kwatir, saya akan memberikan tips untuk membuat bingkai tulisan atau gambar pada blog. Caranya adalah sebagai berikut.


Anda hanya menambahkan kode berikut ini.

1. Bingkai Berbentuk Border
<div style="border: 1px solid #CCC; margin: 10px 0px; padding: 10px; width: auto; height: auto; background-color:#FBFBEE; text-align: left;">

TULISAN YANG KAMU INGINKAN

</div>
Silahkan lakukan pengeditan terhadapa bordenya sesuai keinginan anda.

2. Bingkai Berbentuk Overflow
<div style="overflow:auto; border: 1px solid #CCC; margin: auto; padding: 3px; width: 95%; height: 100px; background-color: none; text-align: left;">

TULISAN YANG KAMU INGINKAN

</div>
Lakukan pengeditan terhadap Overflownya sesuai keinginan anda.

3. Bingkai Berbentuk Textarea
<textarea rows="5" cols="50">

TULISAN YANG KAMU INGINKAN

</textarea>
Silahkan lakukan pengeditan dengan Textareanya sesuai dengan keinginan anda